Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memberikan peringatan bahwa perubahan cuaca ekstrem dapat berdampak pada produksi pangan dan dapat menyebabkan inflasi di daerah tersebut. Wakil Gubernur Sulteng, Reny A. Lamadjido, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu telah menyebabkan kenaikan harga komoditas pangan seperti bawang, cabai, ikan laut, telur, dan beras. Selain itu, perilaku masyarakat yang cenderung memborong emas juga ikut berkontribusi pada tekanan inflasi di Sulawesi Tengah.
Menjelang libur Idul Fitri 2026, diprediksi harga tiket transportasi akan meningkat, yang juga berpotensi menjadi salah satu pemicu inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah melaporkan bahwa inflasi pada bulan Januari 2026 mencapai 0,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Beberapa komoditas seperti emas perhiasan, ikan cakalang, ikan selar, dan minyak goreng memberikan kontribusi terhadap inflasi tersebut.
Sementara komoditas seperti cabai rawit, beras, dan telur ayam ras memberikan kontribusi deflasi pada bulan yang sama. Inflasi tahunan di Sulawesi Tengah pada bulan Januari 2026 mencapai 4,55 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Beberapa komoditas seperti tarif listrik, beras, dan bahan bakar rumah tangga menjadi faktor dominan yang berkontribusi terhadap inflasi tahunan, sementara komoditas seperti cabai rawit dan tomat memberikan kontribusi deflasi yang signifikan. Dengan demikian, perubahan cuaca ekstrem di Sulawesi Tengah memiliki potensi untuk mempengaruhi stabilitas ekonomi daerah dan menimbulkan tekanan inflasi.
