Zimbabwe Memberlakukan Aturan Baru untuk Perusahaan Kripto
Baru-baru ini, Zimbabwe telah mengeluarkan aturan baru yang mengharuskan perusahaan kripto untuk mendaftar dengan bank sentral negara tersebut. Langkah ini menjadikan Zimbabwe sebagai salah satu negara di Afrika yang memberikan lisensi kripto kepada penyedia layanan. Aturan ini diharapkan dapat membawa para pelaku pasar kripto informal ke dalam ranah formal.
Afrika dan Regulasi Kripto
Negara-negara di Afrika lainnya juga tengah menyesuaikan regulasi kripto mereka. Misalnya, Afrika Selatan mengawasi penyedia layanan melalui Financial Sector Conduct Authority, sementara Nigeria melalui Securities and Exchange Commission. Zimbabwe, dengan biaya lisensi hanya sebesar US$ 500, memiliki persyaratan yang lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangganya.
Di Nigeria, perusahaan kripto harus menyimpan 500 juta Naira di rekening bank lokal untuk memenuhi syarat lisensi, setara dengan sekitar US$ 367.000. Sementara itu, Undang-Undang Penyedia Layanan Aset Virtual Kenya juga mulai memberlakukan pengawasan terhadap pasar kripto di negaranya.
Peningkatan Penggunaan Kripto di Afrika Sub-Sahara
Penggunaan kripto terus meningkat di seluruh wilayah Afrika Sub-Sahara. Dalam kurun waktu tertentu, transaksi kripto mencapai lebih dari US$ 205 miliar menurut Chainalysis. Angka ini naik 52% dari tahun sebelumnya, menunjukkan minat yang semakin tinggi terhadap kripto di wilayah tersebut.
Jeffrey Mutambiranwa, seorang pelaku pasar kripto di Harare, Zimbabwe, menyambut baik langkah pemerintahnya dalam mewajibkan perusahaan kripto untuk mendaftar. Baginya, aturan baru ini membuka peluang bagi para pedagang untuk beroperasi secara transparan dan legal.
