Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus mengguncang sektor teknologi sejak 2024 dan terus berlanjut hingga 2026, kendati beberapa perusahaan masih mencatat kinerja finansial yang kuat. Berdasarkan laporan terbaru dari Computerworld, tren ini dipicu oleh transformasi digital, khususnya adopsi Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi, serta tekanan ekonomi seperti inflasi dan biaya operasional yang meningkat.
Adapun daftar kejadian PHK di sektor teknologi mulai dari tahun 2024 hingga awal 2026 mencakup beberapa peristiwa signifikan. Pada bulan Januari 2026, Amazon mengumumkan pengurangan 16.000 pekerjaan, terutama di unit AWS dan talenta teknologi. Ericsson juga berencana untuk mengurangi sekitar 1.600 karyawan di Swedia untuk menekan biaya. Sementara itu, Meta mengumumkan pemangkasan sekitar 10% tenaga kerja di divisi Reality Labs. Bahkan perusahaan teknologi kecil seperti Kaseya dan Multiverse juga melakukan pemotongan karyawan.
Pada bulan Februari 2025, Workday fokus pada AI dengan mengumumkan PHK terhadap 1.750 karyawan. Langkah tersebut diambil untuk meningkatkan investasi di bidang AI dan pertumbuhan internasional, meskipun beberapa analis mengkhawatirkan dampaknya terhadap layanan pelanggan.
Pada bulan November 2024, AMD dan Freshworks melakukan efisiensi. AMD memangkas sekitar 1.000 karyawan seiring peralihan fokus perusahaan untuk mengembangkan chip khusus AI. Sementara Freshworks melaporkan kenaikan pendapatan namun masih melakukan PHK terhadap 660 staf sebagai bagian dari penataan ulang tenaga kerja global.
Bulan September 2024, Cisco kembali melakukan pemotongan staf dengan mengurangi 6.000 karyawan. Fokus utama pengurangan ini terdapat pada divisi keamanan seperti unit Talos Security.
Sementara pada bulan Agustus 2024, General Motors merumahkan lebih dari 1.000 staf perangkat lunak untuk menyederhanakan hierarki dan memprioritaskan proyek digital utama. Intel juga mengumumkan salah satu PHK terbesar dalam sejarah perusahaan dengan memotong 15.000 posisi. Langkah ini diambil setelah laporan keuangan kuartal kedua yang mengecewakan, di mana CEO Pat Gelsinger menekankan perlunya efisiensi biaya karena pendapatan yang tidak tumbuh sesuai harapan.
Tren PHK di tahun 2024 dan 2025 menunjukkan perusahaan beralih dari model pertumbuhan eksplosif era pandemi menuju efisiensi yang diarahkan oleh teknologi AI. Banyak perusahaan mengalokasikan ulang anggaran mereka dari tenaga kerja manusia ke infrastruktur digital dan pengembangan Large Language Model (LLM). Oleh karena itu, bagi para profesional di bidang IT, penting untuk memahami tren ini guna melihat arah industri ke depan dan keterampilan apa yang paling dicari di masa mendatang, terutama di bidang otomatisasi dan kecerdasan buatan.
