Percakapan publik seputar aset kripto, Web3, dan blockchain di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2025. Namun, meskipun minat publik terhadap topik tersebut meningkat, transaksi kripto justru mengalami penurunan dalam nilai nominal dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan Dataxet Sonar mengenai Outlook Kripto Indonesia 2026, volume percakapan kripto di media sosial naik sebesar 29,8 persen pada 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Total engagement dalam percakapan kripto mencapai 217,7 juta, sementara percakapan terkait blockchain dan Web3 masing-masing mencapai 3,2 juta dan 1,5 juta engagement.
Prasetyo Katon, Head of Insights Dataxet Sonar, menyatakan bahwa peningkatan dalam percakapan tersebut menunjukkan minat yang tinggi dari publik terhadap industri aset digital. Namun, meskipun terjadi peningkatan percakapan, data transaksi menunjukkan tren yang berbeda. Nilai transaksi aset kripto pada tahun 2025 mengalami penurunan sebesar 25,9% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, meskipun jumlah investor kripto nasional meningkat menjadi 20,19 juta. Penurunan ini disebabkan oleh biaya transaksi yang masih dinilai kurang efisien, yang mungkin mendorong sebagian pelaku pasar untuk beralih ke platform perdagangan luar negeri.
Situasi ini juga menunjukkan potensi capital outflow atau arus modal keluar, serta menunjukkan perlunya optimisasi untuk meningkatkan daya saing industri aset kripto dalam negeri. Sebagai respons terhadap temuan tersebut, CFX, bursa berjangka aset kripto, berencana memberikan keringanan biaya transaksi bagi Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) anggotanya. CFX berencana menurunkan biaya transaksi bursa dari 0,04 persen menjadi 0,02 persen mulai 1 Maret 2026, dengan harapan bisa memperkuat likuiditas dan mendorong peningkatan aktivitas perdagangan melalui ekosistem dalam negeri.
