Pasar saham Indonesia tetap stabil meskipun terjadi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, demikian menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tidak ada kepanikan berlebihan di kalangan pelaku pasar, seperti yang dikemukakan oleh Anggota Dewan Komisioner OJK, Hasan Fawzi. Pergerakan pasar saham belakangan ini dipandang sebagai respons terhadap penyesuaian harga akibat perkembangan global, termasuk dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi dunia.
OJK mencatat bahwa investor asing masih aktif melakukan pembelian di pasar saham Indonesia. Nilai pembelian bersih investor asing mencapai Rp2,23 triliun selama periode 1-6 Maret 2026, diperkirakan akan mencapai Rp3,3 triliun hingga 10 Maret 2026. Minat investor terhadap pasar modal Indonesia tetap tinggi meskipun ada tekanan dari sentimen global, demikian pendapat Hasan. Sebagai respons, OJK menerapkan sejumlah instrumen kebijakan stabilisasi pasar, termasuk memberikan izin bagi emiten untuk melakukan pembelian kembali saham, melarang praktik “short selling”, dan menerapkan mekanisme “auto rejection” yang bersifat asimetris.
Rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham domestik masih tinggi, dengan mencapai hampir Rp30 triliun pada 6 Maret 2026, meningkat 65,31 persen secara year to date. Meskipun terjadi volatilitas pasar, angka rata-rata nilai transaksi harian tetap berada pada level yang tinggi. OJK terus memantau perkembangan pasar untuk menentukan apakah diperlukan kebijakan tambahan guna menjaga stabilitas pasar. Sesuai sumber antara, artikel ini disadur dari Republika.
