Pelabuhan Tianjin di wilayah utara Tiongkok telah memberikan standar baru dalam industri maritim global. Melalui Terminal Kontainer Sekunder yang dikenal sebagai Section C Terminal, Tianjin telah berevolusi menjadi terminal cerdas tanpa emisi karbon yang pertama di dunia. Dengan mengintegrasikan teknologi robotika canggih, kecerdasan buatan (AI), jaringan 5G, dan energi hijau, Pelabuhan Tianjin memberikan contoh nyata tentang bagaimana pelabuhan masa depan dapat beroperasi secara efisien, mandiri, dan ramah lingkungan.
Salah satu fitur mencolok di Terminal C Pelabuhan Tianjin adalah kehadiran robot otonom berwarna biru yang dikenal sebagai Artificial Intelligence Robots of Transportation (ART) atau Automated Guided Vehicles (AGV). Robot pengangkut kontainer ini bergerak dengan lincah dan presisi tinggi di seluruh terminal tanpa bantuan manusia. Teknologi yang mendukung fitur ini termasuk Navigasi Satelit BeiDou, sensor komprehensif seperti Lidar, kamera, radar ultrasonik, dan radar gelombang milimeter, serta jaringan 5G yang memastikan pengawasan dan pengendalian robot secara optimal.
Terkait evolusi terbaru, Terminal Pelabuhan Tianjin kini menghadirkan teknologi sinergi Cloud-Road Vehicle yang akan mengubah paradigma operasional menjadi sistem terpadu yang menyinergikan “Kendaraan-Jalan-Awan”. Melalui sistem berbasis cloud, terminal ini dapat mengoptimalkan jalur global, mengalokasikan sumber daya, dan mengelola lalu lintas campuran antara robot dan kendaraan lain dengan aman dan efisien.
Penggunaan teknologi AI dan otomatisasi di Pelabuhan Tianjin juga terbukti dapat meningkatkan efisiensi operasional hingga 20%. Perencanaan bongkar muat kontainer yang sebelumnya memakan waktu 20 jam, kini hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit berkat otak cerdas berbasis AI di terminal ini. Selain itu, terminal ini juga beroperasi dengan 100% energi hijau, menggunakan turbin angin dan panel surya untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri dan mengurangi emisi karbon.
Desain operasional Pelabuhan Tianjin telah dirancang agar dapat direplikasi oleh pelabuhan lain di seluruh dunia tanpa perlu melakukan perombakan infrastruktur dasar. Hal ini membuktikan bahwa terminal cerdas zero-karbon ini dapat menjadi contoh bagi industri maritim global.
