Saturday, June 13, 2026

Peluang dan Risiko Harga Bitcoin 2026: Analisis Ahli

Share

Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi di bawah level USD 90.000 akibat tekanan dari arus keluar dana ETF dan aksi ambil untung pelaku pasar. Meskipun data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, yang dapat membuka peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Bitcoin terus tertekan setelah rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS periode November, yang menunjukkan penurunan jumlah lowongan pekerjaan lebih rendah dari ekspektasi pasar. Hal ini menandai perlambatan ekonomi AS yang mempengaruhi harga Bitcoin.

Meski demikian, Bitcoin tidak mampu menguat dan terus melemah setelah menyentuh level USD 89.000 pada awal tahun. Kapitalisasi pasar kripto global juga mengalami koreksi sekitar 3,2% menjadi USD 3,08 triliun, dengan Ethereum dan sejumlah altcoin utama juga mengalami tekanan. Menurut analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, pergerakan ini dapat dipandang sebagai konsolidasi normal pasca reli kuat.

Fyqieh menjelaskan bahwa data tenaga kerja AS yang menurun sebenarnya dapat mendukung aset berisiko seperti Bitcoin karena dapat memicu pemangkasan suku bunga. Namun, aksi ambil untung, tekanan ETF, dan penyesuaian leverage masih mempengaruhi harga Bitcoin dalam jangka pendek. Tekanan pasar semakin berat akibat arus keluar dana Spot Bitcoin ETF yang signifikan serta likuidasi posisi derivatif dalam jumlah besar.

Meskipun demikian, Fyqieh meyakinkan bahwa selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis USD 90.000, tren jangka menengah masih tetap terjaga. Meskipun ada koreksi teknikal setelah penolakan di resistance USD 94.000, namun selama support utama tidak ditembus, pergerakan tersebut lebih cenderung menuju konsolidasi daripada pembalikan tren.

Source link

Baca selengkapnya

Crypto