Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital” karena karakteristiknya yang global, netral, dan tidak terikat pada otoritas tertentu. Seperti halnya emas, Bitcoin memiliki kelangkaan yang kuat dengan jumlah unit terbatas hingga 21 juta. Mekanisme halving yang terjadi setiap empat tahun membuat suplai Bitcoin semakin terbatas, menjadikannya aset penyimpan nilai jangka panjang menurut pendukungnya.
Meskipun demikian, tidak semua pelaku pasar sepakat dengan narasi tersebut. Bitcoin masih dianggap sebagai aset berisiko (risk-on asset) oleh sebagian, terutama karena lonjakan harga emas yang menjadi pilihan bank sentral di tengah ketidakpastian geopolitik, pelemahan dolar AS, dan lonjakan utang global.
Meski demikian, pandangan berbeda muncul dari sebagian pengamat. Mereka melihat kombinasi kelangkaan, kemudahan transaksi lintas negara, dan adopsi teknologi sebagai fondasi kuat bagi kenaikan harga Bitcoin dalam jangka panjang. Prospek Bitcoin menuju tahun 2026 bahkan diprediksi tembus USD 100.000 oleh beberapa pihak.
