Tuesday, May 19, 2026

Rotasi Antarmatra dalam Pergantian Panglima TNI Dinilai Tidak Selalu Berlaku

Share

Perdebatan tentang reformasi TNI acap kali hanya dilihat dari bayang-bayang kekhawatiran kembalinya militer ke ranah sipil. Padahal, kendala nyata terkait reformasi TNI jauh lebih dalam, melibatkan sisi-sisi struktural dan mekanisme pola karier yang belum banyak disorot dalam diskursus publik.

Melihat urgensi persoalan tersebut, Magister Hubungan Internasional Universitas Indonesia menyelenggarakan diskusi dengan tema “Pola Karier dan Profesionalisme Militer,” pada tanggal 4 Maret 2026, menghadirkan pembicara seperti Aditya Batara Gunawan (Universitas Bakrie), Beni Sukadis (Lesperssi), serta Yudha Kurniawan (Laboratorium Politik Universitas Bakrie). Forum ini bertujuan mengupas berbagai dinamika internal TNI yang sering terabaikan.

Ambiguitas Batas Sipil-Militer dan Realitas Promosi

Secara konseptual, kendali sipil atas militer mengharuskan adanya garis tegas antara peran militer sebagai penjaga pertahanan eksternal dan peran sipil dalam urusan domestik. Namun demikian, praktik di tanah air memperlihatkan zona abu-abu yang bisa mengaburkan profesionalisme TNI apabila tidak diatur dengan cermat.

Menyoal promosi dalam militer, seharusnya menjadi urusan internal berdasarkan prestasi. Namun, Aditya Batara menegaskan adanya infiltrasi kepentingan politik, terutama di era kepemimpinan populis. Pola promosi di tubuh TNI acap kali diwarnai tarik-menarik antara meritokrasi dan relasi dekat dengan otoritas politik.

Faktor kedekatan personal dengan elite politik pun menjadi variabel penting dalam penentuan posisi-posisi kunci, sehingga rentan mengikis mekanisme pengawasan yang seharusnya berjalan seimbang. Penempatan jabatan strategis tidak jarang terpengaruh oleh selera dan kepentingan pimpinannya ketimbang prinsip merit.

Sementara itu, penunjukan Panglima TNI di Indonesia yang harus melalui persetujuan DPR secara formal menandai adanya pengawasan sipil. Walau begitu, Yudha Kurniawan menggarisbawahi bahwa proses ini juga membuka celah politisasi TNI untuk kepentingan tertentu di ranah politik. Ia membandingkan, di beberapa negara demokrasi lain seperti Inggris, Panglima militer tertinggi bisa diangkat tanpa perlu pengesahan legislatif, menunjukkan ragam model hubungan sipil-militer di negara demokrasi dunia.

Keganjilan Struktural dalam Tubuh TNI

Sejumlah masalah laten masih membayangi tubuh TNI. Beni Sukadis menekankan, menegakkan profesionalisme bukan sekadar menjalankan pemisahan TNI-Polri atau mengikuti Undang-undang TNI, tetapi juga memastikan sistem promosi berjalan meritokratik, tanpa intervensi kepentingan personal.

Isu surplus perwira dan jabatan juga menjadi sorotan kritis. Yudha Kurniawan memaparkan, struktur organisasi TNI menghadapi ketidakseimbangan signifikan antara jumlah personel dan ketersediaan jabatan, sehingga banyak perwira tinggi tertahan. Problem ini terhubung dengan kapasitas pendidikan militer yang terbatas, sempitnya peluang promosi, serta keterbatasan anggaran pelatihan.

Demi mewadahi surplus SDM, perluasan fungsi TNI ke ranah sipil dan pembesaran organisasi menjadi solusi jangka pendek, namun sebenarnya menimbulkan tantangan baru bagi profesionalisme.

Tradisi Rotasi Panglima TNI di Tengah Dinamika Politik

Rotasi jabatan antarmatra selama ini dianggap sebagai konvensi, namun Beni Sukadis mengungkapkan fakta berbeda. Ia mencontohkan pergantian Panglima dari Jenderal Moeldoko ke Jenderal Gatot Nurmantyo sesama matra darat, membuktikan bahwa pilihan kepemimpinan nasional dan tren politik lebih berpengaruh daripada aturan rotasi formal.

Hal ini menandakan bahwa struktur karier di TNI sangat rentan dipengaruhi preferensi politik, bukan semata profesionalisme atau rotasi yang diidealkan.

Refleksi atas Relevansi Sipil-Militer saat Demokrasi Mengendur

Tantangan menegakkan profesionalisme militer menjadi lebih mendesak di tengah kekhawatiran terjadinya kemunduran demokrasi di Indonesia. Sentralisasi kendali sipil memang penting, tapi apabila keterlibatan politisi terlalu dalam dalam internal militer, justru bisa melahirkan distorsi baru yang merugikan organisasi TNI itu sendiri.

Kematangan politik sipil harus dibarengi penghormatan atas otonomi institusi militer dalam tata kelola karier, sebagaimana berlaku umum di banyak negara maju. Reformasi dan penguatan profesionalisme TNI tidak hanya soal membendung campur tangan militer di sektor sipil, tetapi juga meminimalisir godaan sipil untuk menunggangi TNI demi kepentingan politik praktis. Sudah saatnya Indonesia menerapkan praktik hubungan sipil-militer yang sehat dan profesional secara konsisten.

Sumber: Motif Perluasan Peran TNI Ke Sektor Sipil, Struktur Organisasi Dan Karier Perwira Disorot
Sumber: Motif Di Balik Perluasan Peran TNI Ke Sektor Sipil Dan Pembengkakan Struktur Organisasisi

Baca selengkapnya

Crypto