Tuesday, October 13, 2026

Rusia Peringatkan Risiko Stablecoin Asing, Aset Bisa Dibekukan

Share

Investor aset kripto di Rusia menghadapi risiko kerugian apabila penerbit stablecoin asing membekukan aset yang berada di luar kendali lembaga penyimpanan domestik. Peringatan itu disampaikan di tengah perkiraan bahwa penduduk Rusia memiliki aset kripto dan produk terkait senilai 3,7 triliun rubel, setara sekitar US$44 miliar atau Rp785,66 triliun dengan asumsi kurs Rp17.860 per dolar AS.

Wakil Menteri Keuangan Rusia Ivan Chebeskov menyebut jumlah pengguna kripto di negara tersebut diperkirakan mencapai 20 juta orang. Sementara itu, volume transaksi harian diperkirakan berada di kisaran 50 miliar rubel.

Informasi tersebut disampaikan Chebeskov berdasarkan laporan Kantor Berita TASS, sebagaimana dikutip Crypto.news pada Rabu (23/9/2026). Menurut dia, estimasi kepemilikan itu tidak hanya mencakup aset kripto yang dimiliki secara langsung, tetapi juga berbagai produk keuangan yang berkaitan dengan aset digital.

Data kepemilikan belum berasal dari pendataan menyeluruh

Kementerian Keuangan Rusia menggunakan angka tersebut sebagai perkiraan dari pengamat. Angka itu bukan hasil penghitungan pemerintah terhadap setiap dompet digital maupun seluruh transaksi kripto yang dilakukan masyarakat.

Pemerintah berharap penerapan kerangka regulasi baru dapat memperbaiki kualitas data. Dengan regulasi tersebut, aktivitas transaksi diharapkan lebih banyak berlangsung melalui bursa, pialang, dan lembaga penyimpanan digital yang memiliki izin. Perpindahan aktivitas ke saluran resmi dinilai akan membantu menghasilkan informasi yang lebih akurat mengenai jumlah pengguna, volume transaksi, dan kepemilikan aset digital.

Risiko pembekuan aset dari penerbit asing

Chebeskov mengatakan stablecoin yang diterbitkan perusahaan asing membawa risiko yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh infrastruktur keuangan Rusia. Salah satu risikonya adalah keputusan penerbit untuk memblokir aset tertentu.

“Risiko pemblokiran aset oleh penerbit asing memang ada,” kata Chebeskov.

Ia menyebut USDT dan USDC sebagai contoh stablecoin yang perlu diperhatikan dalam konteks tersebut. Jika penerbit mengambil keputusan pembekuan, investor dapat menanggung kerugian, terutama ketika aset berada di luar kendali lembaga penyimpanan Rusia.

Dalam kerangka kerja yang dijelaskan Chebeskov, lembaga penyimpanan digital Rusia tetap memikul tanggung jawab atas kegagalan dalam menjalankan fungsi akuntansi, penyimpanan aset atau custody, serta transfer aset yang berada dalam pengelolaannya. Tanggung jawab itu juga mencakup pemindahtanganan aset nasabah tanpa izin.

Namun, tanggung jawab lembaga domestik tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko yang berasal dari penerbit stablecoin asing. Peringatan Rusia itu menyoroti batas kendali lembaga penyimpanan lokal terhadap aset yang penerbitnya berada di luar yurisdiksi dan infrastruktur domestik.

Source link

Baca selengkapnya

Crypto