Friday, September 11, 2026

Stablecoin: Tidak Cocok Sebagai Pembayaran Skala Besar?

Share

Stablecoin vs Deposito Ditokenisasi: Perspektif Pablo Hernandez de Cos

Menurut General Manager Bank for International Settlements (BIS), Pablo Hernandez de Cos, stablecoin tidak efektif sebagai alat pembayaran dalam skala besar. Sebaliknya, deposito yang ditokenisasi dapat menjadi pilihan yang lebih menarik dalam memanfaatkan teknologi baru.

Stablecoin dan Tantangannya

Stablecoin, kripto yang nilainya stabil, semakin populer namun menimbulkan kekhawatiran terkait stabilitas keuangan dan pencucian uang di luar Amerika Serikat. Meskipun Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mendukung penggunaan stablecoin dengan alasan memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia, Pablo Hernandez de Cos memberikan pandangan berbeda.

Saat berbicara dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole, de Cos menekankan bahwa stablecoin dan deposito yang ditokenisasi dapat beroperasi bersama. Namun, ia lebih memprioritaskan deposito yang ditokenisasi sebagai sarana pembayaran sehari-hari, sementara stablecoin lebih cocok untuk fungsi khusus.

Tantangan dari Stablecoin

Pablo Hernandez de Cos juga menyoroti beberapa masalah terkait stablecoin. Meskipun dapat menurunkan biaya pinjaman pemerintah, ada potensi kenaikan biaya pendanaan bank karena perpindahan dana dari lembaga pemberi pinjaman. Hal ini berpotensi membuat peminjam harus membayar suku bunga lebih tinggi.

Selain itu, stablecoin juga dapat memecah prinsip “kesatuan” uang karena keterbatasan dalam berpindah antarproduk tanpa melakukan transaksi yang berpotensi menimbulkan biaya tambahan.

Source link

Baca selengkapnya

Crypto